Jenis obat-obatan diantaranya adalah :
- Antibiotik dan antiinfeksi lain
- Obat-obatan untuk saluran napas bagian atas
- Obat-obatan untuk gangguan pencernaan
- Analgesik (anti nyeri)
- Obat-obat gangguan psikiatri
- Vitamin dan mineral
- Obat-obatan Narkotik
- Anti kejang
- Obat sakit kepala
- Obat anti kanker
- Antikoagulan (pembekuan darah)
- Obat Anti Hipertensi
- Antibiotik dan antiinfeksi lain
Turunan
penisilin, termasuk diantaranya amoksisilin dan ampisilin memiliki
batas keamanan yang cukup luas dan toksisitas (keracunan) yang sedikit
baik bagi ibu maupun janin. Penisilin adalah golongan ß-laktam yang
menghambat pembentukan dinding sel bakteri. Penisilin dipakai untuk
berbagai macam infeksi bakteri. Ampisilin dan amoksisilin baik untuk
pengobatan infeksi saluran kemih. Sefalosporin juga aman dan digunakan
untuk pengobatan infeksi saluran kemih, pielonefritis (infeksi ginjal),
dan gonorea. Penisilin aman digunakan selama menyusui
Klindamisin adalah golongan makrolida, digunakan pada infeksi bakteri anaerob dan aman untuk wanita menyusui
Dapat mengakibatkan pewarnaan pada gigi janin.
Metronidazol
menghambat sintesis protein bakteri. Digunakan untuk trikomonas dan
bakterial vaginosis. Aman digunakan pada wanita menyusui
Aminoglikosida
menghambat sintesis protein bakteri. Digunakan untuk mengatasi
pielonefritis (radang pada ginjal). Bila dikonsumsi wanita hamil dapat
menyebabkan ototoksisitas (gangguan pada telinga) yang berakibat
gangguan pendengaran. Aman pada bayi yang disusui karena hanya sedikit
jumlah obat yang melalui air susu
- Trimetoprim-sulfametoksazol
Kombinasi
ini (Bactrim) menghambat metabolisme asam folat dan baik untuk
mengobati infeksi saluran kemih. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa
penggunaan bactrim pada triwulan pertama berkaitan dengan sedikit
peningkatan risiko kecacatan pada janin, terutama jantung dan pembuluh
darah. Selain itu, bactrim dapat menyebabkan hiperbilirubinemia
(peningkatan kadar bilirubin pada tubuh) sehingga berakibat kernikterus
(kuning) pada bayi. Antibiotik ini aman untuk wanita menyusui
Eritromisin dan azitromisin menghambat sintesis protein bakteri. Dapat digunakan pada wanita menyusui
Acylovir tidak menimbulkan kecacatan pada janin berdasarkan penelitian pada 601 wanita hamil yang mengkonsumsi acyclovir. The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan bahwa acyclovir
aman digunakan pada wanita hamil yang mengalami papaparan terhadap
penyakit yang disebabkan oleh virus (herpes, hepatitis, varisela
<cacar>).
Untuk
tatalaksana penyakit HIV / AIDS menggunakan NRTIs (zidovudin) dan
NNRTIs aman dikonsumsi oleh wanita hamil. Sedangkan Protease Inhibitor
(Pis) belum diteliti lebih lanjut.
- Obat-obatan untuk saluran napas bagian atas
Keluhan
pada saluran pernapasan atas seperti rinore (hidung berair),
bersin-bersin, hidung tersumbat, batuk, sakit pada tenggorok diikuti
dengan lemah dan lesu adalah keluhan yang umum dimiliki oleh wanita
hamil. Flu tersebut dapat disebabkan oleh rinovirus, koronavirus,
influenza virus, dan banyak lagi. Apabila keluhan ini murni disebabkan
oleh virus tanpa infeksi tambahan oleh bakteri maka terapi menggunakan
antibiotik tidak diperlukan. Obat-obatan yang paling sering digunakan
untuk mengurangi gejala yang terjadi diantaranya adalah :
Antihistamin
atau sering dikenal sebagai antialergi aman digunakan selama
kehamilan. Antihistamin yang aman termasuk diantaranya adalah
klorfeniramin, klemastin, difenhidramin, dan doksilamin. Antihistamin
generasi II seperti loratadin, setirizin, astemizol, dan feksofenadin baru memiliki sedikit data mengenai penggunannnya selama kehamilan
Dekongestan
atau obat pelega sumbatan hidung adalah obat yang digunakan untuk
meredakan gejala flu yang terjadi. Dekongestan oral (diminum)
diantaranya adalah pseudoefedrin, fenilpropanolamin, dan fenilepinefrin.
Pada triwulan pertama pemakaian pseudoefedrin berkaitan dengan
kejadian gastroschisis karena
itu sebaiknya dipikirkan alternatif penggunaaan dekongestan topikal
(hanya disemprotkan di bagian tertentu tubuh, hidung) pada triwulan
pertama
Kodein
dan dekstrometorfan adalah obat pereda batuk yang paling umum
digunakan. Kebanyakan obat flu aman dikonsumsi selama menyusui
Asma
merupakan penyakit saluran pernapasan atas yang kronik (jangka waktu
lama) ditandai dengan peradangan pada saluran napas dan hipereaktivitas
dari bronkus (lendir banyak keluar). Terapi asma dimulai dengan
mengurangi paparan terhadap lingkungan yang membuat asma menjadi kambuh.
Semua wanita hamil sebaiknya memperoleh vaksinasi influenza.
Obat-obatan asma diantaranya adalah :
Inhalasi
glukokortikoid (cara pemasukan obat melalui pernapasan, diuap)
dilaporkan tidak menyebabkan kecacatan dan dapat digunakan selama
menyusui. Glukokortikoid sistemik (diminum dengan reaksi pada seluruh
tubuh) meningkatkan risiko bibir sumbing sebanyak 5 kali dari normal.
Tidak menyebabkan kecacatan pada janin dan aman digunakan selama menyusui
Tidak menyebabkan kecacatan pada janin dan aman digunakan selama menyusui
- Obat-obatan untuk gangguan pencernaan
Keluhan
pada saluran cerna merupakan keluhan yang umum pada wanita hamil,
termasuk diantaranya adalah mual, muntah, hiperemesis gravidarum, intrahepatik kolestasis dalam kehamilan, dan Inflammatory Bowel Disease. Terapi menggunakan obat diantaranya adalah :
- Antihistamin. Aman dikonsumsi oleh wanita hamil
- Agen
antidopaminergik. Beberapa obat antidopaminergik seperti
proklorperazin, metoklopramid, klorpromazin, dan haloperidol aman
dikonsumsi oleh wanita hamil
- Obat-obatan
lain. Antasid, simetidin, dan ranitidin aman dikonsumsi wania
hamil dan menyusui. Penghambat pompa proton tidak direkomendasikan
untuk wanita hamil. Misoprostol kontraindikasi untuk kehamilan
- Analgesik
Analgesik atau dikenal dengan anti nyeri terbagi atas kategori antiinflamasi nonsteroid dan kategori opioid.
1. Antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs)
Aspirin
adalah golongan NSAIDs yang bekerja dengan menghambat enzim untuk
pembuatan prostaglandin. Perhatian lebih diperlukan pada konsumsi
aspirin melebihi dosis harian terendah karena obat ini dapat melalui
plasenta. Pemakaian aspirin pada triwulan pertama berkaitan dengan
peningkatan risiko gastroschisis. Dosis aspirin tinggi berhubungan dengan abruptio plasenta (plasenta terlepas dari rahim sebelum waktunya). The World Health Organization (WHO) memiliki perhatian lebih untuk konsumsi aspirin pada wanita menyusui.
Indometasin
dan ibuprofen merupakan NSAIDs yang sering digunakan. NSAIDs jenis ini
dapat mengakibatkan konstriksi (penyempitan) dari arteriosus duktus
fetalis (pembuluh darah janin) selama kehamilan sehingga tidak
direkomendasikan setelah usia kehamilan memasuki minggu ke – 32.
Penggunaan obat ini selama triwulan pertama mengakibatkan
oligohidramnion (cairan ketuban berkurang) atau anhidramnion (tidak ada
cairan ketuban) yang berkaitan dengan gangguan ginjal janin. Obat ini
dapat digunakan selama menyusui.
Asetaminofen
banyak digunakan selama kehamilan. Obat ini dapat melalui plasenta
namun cenderung aman apabila digunakan pada dosis biasa. Asetaminofen
dapat digunakan secara rutin pada semua triwulan untuk meredakan nyeri,
sakit kepala, dan demam. Dapat digunakan untuk wanita menyusui.
2. Analgesik Opioid
Analgesik
opioid adalah preparat narkotik yang dapat digunakan selama kehamilan.
Preparat narkotik ini dapat melalui plasenta namun tidak berkaitan
dengan kecacatan pada janin selama digunakan pada dosis biasa. Apabila
penggunaan obat ini dekat dengan waktu melahirkan, maka dapat
menyebabkan depresi pernapasan pada janin. Narkotik yang umum digunakan
adalah kodein, meperidin, dan oksikodon, semua preparat ini dapat
digunakan ketika menyusui.
- Obat-obat gangguan psikiatri
Depresi dan skizofrenia
adalah gangguan psikiatri yang dapat ditemukan selama periode
reproduksi. Agen trisiklik seperti amitriptilin, desipramin, dan
imipramin digunakan untuk mengatasi depresi, kecemasan berlebih,
gangguan obsesif-kompulsif, migrain,
dan masalah lain. Tidak ada bukti jelas yang menyatakan adanya efek
samping agen trisiklik pada wanita menyusui dan wanita hamil.
The Selective Serotonin Reuptake Inhibitors
(SSRIs) termasuk di dalamnya fluoksetin dan fluvoksamin tidak
meningkatkan risiko kecacatan pada janin. Agen lain seperti penghambat
monoamin oksidase yang digunakan untuk mengatasi depresi belum diteliti
lebih lanjut mengenai keamanannya pada wanita hamil. Obat untuk
stabilisasi mood (mood stabilizers) seperti litium,
asam valproat, dan karbamazepin dinyatakan sebagai agen teratogen
(berbahaya untuk janin). Litium tidak direkomendasikan untuk wanita
menyusui. Asam valproat dan karbamazepin berhubungan dengan peningkatan
risiko neural tube defects (gangguan pada saraf).
Obat untuk mengatasi kecemasan berlebih seperti benzodiazepin dapat
meningkatkan risiko bibir sumbing. Efek pada wanita menyusui belum
diketahui namun perlu diperhatikan lebih lanjut.
- Vitamin dan Mineral
Konsumsi
multivitamin dan mineral pada umumnya diberikan untuk wanita hamil
dari tenaga kesehatan. Sudah dibuktikan berdasarkan penelitian bahwa
folat dapat mengurangi kelainan saraf. Suplementasi besi dapat
meningkatkan hematokrit ketika melahirkan dan 6 minggu pasca
melahirkan. Vitamin yang terbukti teratogen adalah vitamin A ketika
dikonsumsi lebih dari 10.000 IU/hari. Vitamin A dalam dosis ini dapat
menyebabkan kelainan saraf. Apabila digunakan sebagai suplementasi
tidak lebih dari 5000 IU/hari.
- Obat-obatan narkotik
Narkotik
termasuk di dalamnya adalah opiat, kokain, atau kanabinoid. Efek
narkotika adalah hambatan pertumbuhan janin, kematian janin dalam
kandungan, dan ketergantungan pada janin. Penggunaan kokain selama
kehamilan dapat meningkatkan risiko abruptio plasenta, ketuban pecah
dini, dan bayi berat lahir rendah. Amfetamin, obat yang digunakan untuk
mengatasi depresi, dapat meningkatkan risiko bibir sumbing. Penggunaan
obat narkotik dengan suntikan bersama dapat meningkatkan risiko
Hepatitis B atau HIV/AIDS, dimana janin dapat tertular oleh virus
tersebut.
Sebagai
tambahan, nikotin yang terkandung di dalam rokok juga dapat
menyebabkan bayi berat lahir rendah. Nikotin mengurangi aliran darah
menuju plasenta dan meningkatkan risiko kelahiran preterm, bayi berat
lahir rendah, dan kematian mendadak pada janin. Alkohol pada wanita
hamil dapat menyebabkan sindroma alkohol janin yang ditandai dengan
perubahan kraniofasial (tulang kepala dan wajah) dan gangguan kognitif.
Tidak ada batas aman untuk konsumsi alkohol selama kehamilan.
- Anti Kejang
Epilepsi
adalah penyakit gangguan saraf yang dapat terjadi selama kehamilan.
Semua obat antiepilepsi dapat melalui plasenta dan memiliki potensi
teratogen. Penelitian membuktikan bahwa obat antiepilepsi dapat
menyebabkan cacat bawaan. Fenitoin (Dilantin) dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan janin. Karbamazepin dapat meningkatkan risiko spina
bifida. Fenobarbital dapat mengakibatkan kelainan jantung bawaan dan
sumbing orofasial (bibir dan wajah). Asam valproat memiliki risiko
peningkatan 1-2% kelainan spina bifida. Obat antiepilepsi diatas dapat
digunakan selama menyusui.
Gambar 2. Obat yang bersifat Teratogen
- Obat Sakit Kepala
Sakit
kepala sering dialami selama kehamilan. Sumatriptan dapat digunakan
untuk mengobati sakit kepala dan tidak bersifat teratogen. Obat untuk
migrain yaitu ergotamin tidak memiliki sifat yang berbahaya bagi janin.
Obat ini dapat merangsang kontraksi rahim sehingga dapat menyebabkan
prematur janin.
- Obat anti kanker
Kanker
yang paling sering dialami oleh wanita hamil adalah kanker payudara.
kanker leher rahim, limfoma, melanoma, leukimia (kanker darah), dan
kanker usus besar serta kanker indung telur. Obat kemoterapi seperti
metotreksat dapat memiliki potensi bahaya bagi janin. Obat ini dapat
menyebabkan kecacatan pada janin bila digunakan pada triwulan pertama.
Selain itu, obat kemoterapi dapat masuk ke dalam ASI sehingga menyusui
tidak diperkenankan bagi ibu yang menggunakan obat kemoterapi. Terapi
pada wanita hamil dengan kanker harus didiskusikan dengan tenaga
kesehatan masing-masing.
- Antikoagulan (anti pembekuan darah)
Tromboemboli
(sumbatan pada pembuluh darah) merupakan salah satu penyebab kematian
tertinggi bagi wanita hamil dan setelah melahirkan. Antikoagulan
digunakan untuk mengatasi tromboemboli serta penyakit jantung akibat
kelainan katup. Penggunaan antikoagulan oral (warfarin) dapat
mengakibatkan efek teratogen pada janin. Obat ini dapat melalui plasenta
dan menekan vitamin K yang diperlukan sebagai agen pembekuan darah. Antikoagulan
lain adalah heparin yang tidak dapat melalui plasenta pada dosis
berapapun sehingga tidak bersifat teratogen. Kedua jenis antikoagulan
ini dapat digunakan selama menyusui.
- Obat Anti Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
Penghambat
ACE (captopril, enalapril) apabila digunakan pada triwulan kedua dan
ketiga dapat mengakibatkan disfungsi ginjal pada janin dan
oligohidramnion (berkurangnya cairan ketuban). Obat ini tidak dianjurkan
selama kehamilan. Penghambat pompa kalsium (amlodipin, diltiazem,
nifedipin) dapat mengakibatkan hipoksia janin (kekurangan oksigen) yang
berkaitan dengan hipotensi maternal (tekanan darah rendah pada ibu).
Golongan penghambat β (propranolol, labetolol) dapat menyebabkan
bradikardia (denyut jantung melambat) pada janin maupun bayi baru lahir.
Golongan diuretik (asetazolamid) dapat mengakibatkan gangguan
elektrolit pada janin. Golongan ARAs dapat mengakibatkan gangguan sistem
renin-angiotensin sehingga menyebabkan kematian pada janin.
Gambar 3. Minum Obat selama Kehamilan
Kesimpulan
Pada
umumnya obat-obatan aman untuk digunakan dalam masa kehamilan,
termasuk diantaranya antibiotik, obat untuk saluran pernapasan atas,
dan keluhan saluran cerna
Beberapa
obat diketahui memiliki efek teratogen (membuat cacat pada janin),
termasuk diantaranya Penghambat ACE (obat antihipertensi), isotretinoin
(obat jerawat), alkohol, antibiotik tetrasiklin, doksisiklin, dan
streptomisin, antikoagulan, litium, obat antikejang, beberapa obat
antineoplasma, vitamin A dan turunannya, obat antitiroid, kokain, dan
thalidomide.
Kebanyakan obat aman untuk digunakan dalam
masa menyusui karena jumlah yang muncul di air susu bersifat
subterapeutik, sekitar 1 – 2% dari dosis ibu, kecuali litium.